Ada 4 langkah untuk melakukan "Saat Teduh" agar kita dapat berakar kuat di dalam Firman Allah, yang disebut 4M:
Berdoalah agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk dapat "menerima Firman Tuhan" yang kita baca hari ini, agar kita tidak memberontak terhadap Firman tetapi rela dikoreksi.
Membaca Firman Tuhan dengan teliti dan serius sampai menemukan kedalamannya, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat membacanya.
Lakukan Firman Tuhan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan, sebelum melakukan kita perlu juga membuat rencana penerapan yang praktis dan terukur.
Ceritakanlah dan saksikan kepada keluarga, teman dan orang yang dekat dengan Anda tentang Pelajaran yang menjadi berkat buat Anda hari ini, sebab orang yang diberkati pasti akan bersaksi.
Kehidupan Kristiani kita dimulai ketika Roh Kudus memberi kita iman sehingga kita percaya kepada Yesus (Roma 10:9-10; Efesus 1:13), lahir baru, dan dibenarkan oleh iman kita kepada Yesus (Roma 3:23-24). Tetapi keselamatan, juga kehidupan Kristiani kita tidak pernah berhenti hanya pada fase dibenarkan (justification) di hadapan Allah, karena ada fase lain, yaitu pengudusan (sanctification), di mana kita dan Allah Roh Kudus bekerja secara sinergis untuk mencapai keserupaan kita dengan Kristus (Roma 8:29; 2 Korintus 3:18). Paulus menyebut fase ini dengan satu kalimat perintah, yaitu “kerjakan keselamatanmu” (work out your salvation, bukan work for your salvation) (Filipi 2:12-13).
secara umum tiga disiplin rohani yang bisa kita lakukan bersama dalam menjalani kehidupan Kristen kita agar menjadi pribadi yang berdampak
Pertama, disiplin akal budi.
Kita perlu mengawasi konten-konten yang kita baca dan dengar sehari-hari, sebab apa yang kita baca dan dengar bisa membentuk atau mempengaruhi akal budi kita. Akal budi kita perlu untuk didisiplinkan atau diperbaharui (Roma 12:2) dengan cara membaca atau mendengarkan firman Tuhan, baik membaca Alkitab dan mendengarkan khotbah di gereja.
Inti dari disiplin akal budi adalah kita perlu mengisi akal budi kita dengan pengetahuan yang benar tentang siapa itu Tuhan dan siapa kita, serta apa yang harus kita lakukan bagi Tuhan dan sesama.
Kedua, disiplin hati.
Amsal 4:23 mencatat, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Hati manusia ibarat seperti suatu ruangan, sebut saja ia adalah kamar tidur kita. Kamar tidur kita akan bau dan berantakan jika sampah-sampah di dalamnya tidak pernah kita buang dan tidak pernah kita bersihkan. Demikian juga dengan hati kita. Kita perlu membuang kebiasaan-kebiasaan yang kotor, sekaligus merawat dan mempercantik hati kita dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, sebab orientasi atau hasrat dari hati kita terbentuk melalui kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Oleh karena itu, kebiasaan kita adalah liturgi sehari-hari yang membentuk hati, sekaligus siapa kita.
Ketiga, disiplin tubuh.
Kekristenan tidak anti dengan tubuh, seperti dalam filsafat gnostisisme dan platonisme. Karena Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang bertubuh. Kristus bangkit dengan tubuh kebangkitan-Nya. Bahkan, kita yang di dalam Kristus akan menerima tubuh kemuliaan suatu hari kelak (1 Korintus 15:51-52).
Karena kita adalah makhluk yang bertubuh, maka apa pun yang kita lakukan dengan tubuh kita mempengaruhi kerohanian kita, dan juga sebaliknya. Oleh karena itu, cara-cara disiplin tubuh seperti berpuasa, berkontemplasi sambil merenungkan firman Tuhan di taman atau pinggir sungai, berdoa sambil berlutut, memuji Tuhan dengan bernyanyi dan menari dapat menjadi bentuk kita untuk mencintai Tuhan, sekaligus mengarahkan diri kita seutuhnya dalam berelasi dan menaati Dia.
Dengan membagikan renungan disiplin diri membentuk pribadi berdampak, kami berharap dapat menolong kita untuk semakin mengasihi Tuhan dan menjadi pribadi yang berdampak, Kiranya kuasa Roh Kudus memampukan kita untuk mempraktikkan disiplin-disiplin rohani tersebut. Amin.