Harapan Baru Regency

Jl. HBR Selatan Komplek Gereja No.3 Bekasi Barat

Kontak

(021) 480 2605

Panduan Renungan Harian

Ada 4 langkah untuk melakukan "Saat Teduh" agar kita dapat berakar kuat di dalam Firman Allah, yang disebut 4M:

M1. MENERIMA FIRMAN

Berdoalah agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk dapat "menerima Firman Tuhan" yang kita baca hari ini, agar kita tidak memberontak terhadap Firman tetapi rela dikoreksi.

M2. MERENUNGKAN FIRMAN

Membaca Firman Tuhan dengan teliti dan serius sampai menemukan kedalamannya, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat membacanya.

M3. MELAKUKAN DENGAN TEKUN

Lakukan Firman Tuhan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan, sebelum melakukan kita perlu juga membuat rencana penerapan yang praktis dan terukur.

M4. MEMBAGIKAN KESAKSIAN ATAU PERTOLONGAN

Ceritakanlah dan saksikan kepada keluarga, teman dan orang yang dekat dengan Anda tentang Pelajaran yang menjadi berkat buat Anda hari ini, sebab orang yang diberkati pasti akan bersaksi.

Sunday 09 April 2023

KEMULIAAN TUHAN MENGUBAHKAN

Baca: Yesaya 6:1-13

“Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir,...”   Yesaya 6:5

Sebelum Tuhan mengutus Yesaya sebagai nabiNya ke tengah-tengah bangsa yang penuh kejahatan, Dia memperlihatkan kemuliaanNya. Melihat kemuliaan Tuhan yang luar biasa Yesaya gemetar sehingga dia hanya dapat berteriak dalam keputusasaannya, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, ...namun mataku telah meihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.”  (Yesaya 6:5).

Sebelum melihat kemuliaan Tuhan bibir Yesaya masih najis, apalagi dia juga berada di tengah-tengah bangsa yang najis bibir pula, tetapi waktu itu dia belum menyadarinya; mungkin saja ia menganggap sudah layak menjadi nabi Tuhan yang dapat diutus melayani bangsa-bangsa, sampai suatu ketika cahaya kemuliaan Tuhan turun menyinari. Saat itu pula Yesaya mendengar para Serafim menyerukan, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya!” (ayat 3). Peristiwa itu benar-benar menyentuh hatinya dan menyadarkan keberadaannya di hadapan Tuhan.

Bagaimana bibir najis dapat menjadi alat penyambung bibir Tuhan yang Mahakudus? Yaitu dengan kesadaran yang mendalam dan persiapan diri Yesaya untuk menyambut kedatangan serafim dari mezbah untuk menyucikan dan membakar bibirnya. Akhirnya bibir Yesaya disentuh dengan bara api. “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” (ayat 7). Setelah bibirnya dikuduskan dengan ‘api’ yang berbicara tentang kuasa api Roh Kudus siaplah Yesaya diutus Tuhan. Ia tidak lagi melihat hal-hal negatif dan tidak lagi menghiraukan bagaimana nasib dirinya nanti saat berada di antara bangsa durhaka itu. Yang dilihatnya hanya kemuliaan Tuhan sehingga dengan mantap dia berseru kepadaNya, “Ini aku, utuslah aku!” (ayat 8b)

Adalah perlu bagi para pelayan Tuhan menerima jamahan api Roh Kudus pada bibirnya, agar dalam setiap tugasnya bibir mereka sanggup memperkatakan kebenaran firmanNya saja: perkataan yang membangun, menguatkan dan memberkati banyak orang.

Karena jamahan Roh Kudus Yesaya dipulihkan dan menjadi utusan Tuhan untuk menyatakan kebenaran di antara bangsa-bangsa.