Harapan Baru Regency

Jl. HBR Selatan Komplek Gereja No.3 Bekasi Barat

Kontak

(021) 480 2605

Panduan Renungan Harian

Ada 4 langkah untuk melakukan "Saat Teduh" agar kita dapat berakar kuat di dalam Firman Allah, yang disebut 4M:

M1. MENERIMA FIRMAN

Berdoalah agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk dapat "menerima Firman Tuhan" yang kita baca hari ini, agar kita tidak memberontak terhadap Firman tetapi rela dikoreksi.

M2. MERENUNGKAN FIRMAN

Membaca Firman Tuhan dengan teliti dan serius sampai menemukan kedalamannya, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat membacanya.

M3. MELAKUKAN DENGAN TEKUN

Lakukan Firman Tuhan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan, sebelum melakukan kita perlu juga membuat rencana penerapan yang praktis dan terukur.

M4. MEMBAGIKAN KESAKSIAN ATAU PERTOLONGAN

Ceritakanlah dan saksikan kepada keluarga, teman dan orang yang dekat dengan Anda tentang Pelajaran yang menjadi berkat buat Anda hari ini, sebab orang yang diberkati pasti akan bersaksi.

Wednesday 10 January 2024

KASIH BAPA: Sungguh Tiada Batas

Baca: Lukas 15:11-32

"Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita."  Lukas 15:22-23

Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena Tuhan yang kita sembah adalah Bapa yang sungguh teramat baik, Bapa yang selalu ingin memberkati anak-anak-Nya.  Bahkan kerinduan hati Bapa untuk memberkati kita itu jauh lebih besar dari kerinduan hati kita untuk diberkati oleh-Nya.  Kita dapat melihatnya dari kisah perumpamaan yang Kristus sampaikan tentang anak yang hilang ini, sekalipun anak bungsu itu telah memilih untuk meninggalkan bapanya dan menghabiskan harta miliknya dan jatuh melarat, dan yang kemudian baru memutuskan untuk kembali pulang ke rumah bapanya.

     Apa yang diperbuat bapanya begitu melihat anak bungsunya kembali?  Marah dan mengusir dia?  Tidak sama sekali!  Sang bapa justru menyambutnya dengan tangan terbuka dan penuh dengan kasih.  Bapa juga sama sekali tidak mengungkit-ungkit dosa dan kesalahan yang diperbuat anak bungsu itu, apalagi menyinggung soal berapa uang dan harta yang telah dihambur-hamburkannya.  Bapa puas dan gembira karena anaknya sudah pulang dalam keadaan selamat.  Itu cukup baginya, sekalipun anak bungsu itu berkata,  "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa."  (Lukas 15:18-19).  Akan tetapi perkataan ini tidak ditanggapi bapanya.  Perhatikan reaksi bapanya begitu melihat anaknya yang bungsu itu kembali ke rumah:  "...Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."  (Lukas 15:20).  Apa pun keadaannya, anak bungsu itu tetap diterimanya sebagai anak!

     Begitu juga dengan Bapa kita di sorga, Ia tidak pernah memperhitungkan kesalahan dan dosa kita ketika kita memutuskan untuk kembali kepada-Nya.

"Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita... sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  Mazmur 103:10, 12