Harapan Baru Regency

Jl. HBR Selatan Komplek Gereja No.3 Bekasi Barat

Kontak

(021) 480 2605

Panduan Renungan Harian

Ada 4 langkah untuk melakukan "Saat Teduh" agar kita dapat berakar kuat di dalam Firman Allah, yang disebut 4M:

M1. MENERIMA FIRMAN

Berdoalah agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk dapat "menerima Firman Tuhan" yang kita baca hari ini, agar kita tidak memberontak terhadap Firman tetapi rela dikoreksi.

M2. MERENUNGKAN FIRMAN

Membaca Firman Tuhan dengan teliti dan serius sampai menemukan kedalamannya, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat membacanya.

M3. MELAKUKAN DENGAN TEKUN

Lakukan Firman Tuhan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan, sebelum melakukan kita perlu juga membuat rencana penerapan yang praktis dan terukur.

M4. MEMBAGIKAN KESAKSIAN ATAU PERTOLONGAN

Ceritakanlah dan saksikan kepada keluarga, teman dan orang yang dekat dengan Anda tentang Pelajaran yang menjadi berkat buat Anda hari ini, sebab orang yang diberkati pasti akan bersaksi.

Monday 18 November 2024

BELAS KASIHAN MEMBUTUHKAN TINDAKAN

Baca: Lukas 10:25-37

"Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan."  Lukas 10:33

Kata belas kasihan yang disebut pula welas asih, atau kepedulian, bisa diartikan:  emosi seseorang yang muncul akibat penderitaan orang lain, lebih kuat dari sekedar berempati.  Perasaan ini biasanya memunculkan suatu usaha untuk mengurangi penderitaan orang tersebut.  Inilah yang dirasakan oleh seorang Samaria ketika melihat orang yang terluka akibat dirampok dan dipukuli oleh para penyamun.  Dilandasi oleh belas kasihan, orang Samaria itu pun tergerak hati untuk menyatakan kebaikannya dalam tindakan nyata.  Belas kasihan tanpa disertai dengan sebuah tindakan tidak akan berdampak apa-apa.

     Dalam perumpamaan ini sesungguhnya ada 3 orang yang melihat orang yang sedang terluka parah di jalan itu dan sangat membutuhkan pertolongan:  seorang imam, orang Lewi dan orang Samaria.  Imam, yang tugas kesehariannya melayani di Bait Suci, ketika melihat orang yang terluka justru mempercepat langkahnya dan melewatinya begitu saja.  Mengapa?  Ia takut kalau-kalau orang itu sudah mati, sebab berdasarkan peraturan per-iman-an, barangsiapa menyentuh orang mati akan dianggap najis selama tujuh hari lamanya  (Bilangan 19:11).  Pikirnya, dengan menolong ia akan kehilangan kesempatan untuk bertugas di Bait Suci.  Baginya, melakukan  'pekerjaan'  pelayanan adalah lebih utama daripada menolong orang lain.  Orang Lewi, juga tak mau mengambil resiko.  Para penyamun seringkali punya kebiasaan memasang umpan di tempat yang sepi, contohnya dengan berpura-pura menjadi orang yang terluka.  Begitu ada orang yang berhenti untuk menolong, segeralah para penyamun lain datang untuk mendekat, menyakiti dan merampoknya.  Tetapi, orang Samaria, ketika melihat orang yang terluka, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan segera memberikan pertolongan.  Ia berani mengambil resiko apa pun demi menolong orang lain.

     Ketika melihat orang lain sedang  'terluka'  dan sangat membutuhkan pertolongan, apakah hati kita tergerak untuk memberikan pertolongan?  Apakah hati kita peka terhadap kebutuhan orang lain?  Ingat... mengasihi itu bukan hanya dengan kata-kata belaka, tetapi harus diwujudkan dalam sebuah tindakan.

Milikilah hati seperti hati Tuhan Yesus, yang penuh dengan belas kasihan!