Harapan Baru Regency

Jl. HBR Selatan Komplek Gereja No.3 Bekasi Barat

Kontak

(021) 480 2605

Panduan Renungan Harian

Ada 4 langkah untuk melakukan "Saat Teduh" agar kita dapat berakar kuat di dalam Firman Allah, yang disebut 4M:

M1. MENERIMA FIRMAN

Berdoalah agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk dapat "menerima Firman Tuhan" yang kita baca hari ini, agar kita tidak memberontak terhadap Firman tetapi rela dikoreksi.

M2. MERENUNGKAN FIRMAN

Membaca Firman Tuhan dengan teliti dan serius sampai menemukan kedalamannya, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat membacanya.

M3. MELAKUKAN DENGAN TEKUN

Lakukan Firman Tuhan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan, sebelum melakukan kita perlu juga membuat rencana penerapan yang praktis dan terukur.

M4. MEMBAGIKAN KESAKSIAN ATAU PERTOLONGAN

Ceritakanlah dan saksikan kepada keluarga, teman dan orang yang dekat dengan Anda tentang Pelajaran yang menjadi berkat buat Anda hari ini, sebab orang yang diberkati pasti akan bersaksi.

Tuesday 23 July 2024

SERASA DALAM JURANG

Baca: Mazmur 130:1-8

"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!"  Mazmur 130:1

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata jurang adalah lembah yang dalam dan sempit, serta curam dindingnya;  suatu tempat yang sangat gelap dan mengerikan.  Ketika seseorang sedang melewati jalan yang disisinya ada jurang, pastilah ada rambu supaya kita hati-hati.  Jika tidak berhati-hati bisa fatal akibatnya.  Jika sudah terperosok/jatuh ke dalam jurang curam, sulit rasanya untuk tetap hidup.  Jika hidup pun sulit menyelamatkan diri sendiri, kita pasti membutuhkan pertolongan orang lain.  Tak bisa dibayangkan betapa ngeri dan menderitanya bila seseorang jatuh ke dalam jurang.

     Terkadang kita juga mengalami keadaan yang demikian, di mana masalah dan kesesakan datang melanda hidup kita.  Kita pun merasa tak berdaya, sedih, perih, sakit, putus asa, seperti berada di dalam 'jurang' yang sepertinya tidak ada harapan dan kita tidak tahu harus berbuat apa.  Keadaan demikian juga pernah di alami Daud, namun dia tidak menyerah begitu saja atau menyalahkan keadaan, orang lain, diri sendiri atau bahkan Tuhan yang justru akan makin menenggelamkannya dalam ratap;  Daud tahu kepada siapa ia berharap dan meratap:  "Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku."  (ayat 2).  Ia datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati dan memohon belas kasihNya dengan berkata,  "Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?"  (ayat 3).  Daud sadar bahwa dirinya penuh kesalahan, dan mungkin saja penderitaan yang dialaminya sebagai akibat kesalahan dan pelanggarannya.  Itulah sebabnya ia memohon ampun kepada Tuhan, dan ia berkata,  "...pada-Mu ada pengampunan,"  (ayat 4).

     Asal bertobat dengan sungguh Tuhan pasti akan mendengar teriak kita minta tolong.  Karena itu Daud menanti-nantikan Tuhan!  Bahkan pengharapannya kepada Tuhan  "...lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi,"  (ayat 6).  Hal itu menunjukkan betapa ia sangat mengharapkan Tuhan.  Daud sangat yakin bahwa pengharapan di dalam Tuhan  "...adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita,"  (Ibrani 6:19) dan "...tidak mengecewakan,"  (Roma 5:5).

Tetap berharap kepada Tuhan dan nantikan Dia;  pada saat yang tepat Dia pasti akan mengangkat kita dari jurang terdalam sekali pun!