Ada 4 langkah untuk melakukan "Saat Teduh" agar kita dapat berakar kuat di dalam Firman Allah, yang disebut 4M:
Berdoalah agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk dapat "menerima Firman Tuhan" yang kita baca hari ini, agar kita tidak memberontak terhadap Firman tetapi rela dikoreksi.
Membaca Firman Tuhan dengan teliti dan serius sampai menemukan kedalamannya, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat membacanya.
Lakukan Firman Tuhan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan, sebelum melakukan kita perlu juga membuat rencana penerapan yang praktis dan terukur.
Ceritakanlah dan saksikan kepada keluarga, teman dan orang yang dekat dengan Anda tentang Pelajaran yang menjadi berkat buat Anda hari ini, sebab orang yang diberkati pasti akan bersaksi.
Abel Mutai, seorang atlet lari asal Kenya, tinggal beberapa meter dari garis finis dan akan memenangi lomba lintas alam internasional. Namun, karena bingung melihat papan petunjuk dan mengira dirinya telah melewati finis, Mutai pun menghentikan larinya. Ivan Fernandez Anaya asal Spanyol yang membuntuti di posisi kedua melihat kesalahan Mutai. Namun, alih-alih memanfaatkan keadaan dan melesat ke garis finis, ia justru menghampiri Mutai, mengulurkan lengan, dan memberi isyarat agar Mutai terus berlari untuk meraih medali emasnya. Ketika ditanya oleh seorang reporter tentang alasannya berbuat demikian, Anaya menegaskan bahwa Mutai yang selayaknya menang, bukan dirinya. “Apa yang dapat dipuji dari kemenangan saya? Kebanggaan seperti apa yang saya dapatkan dari medali emas itu? Apa yang akan dipikirkan ibu saya jika saya berbuat demikian? ” Sebuah berita menulis demikian: “Anaya lebih memilih jujur daripada menang.”
Kitab Amsal berkata bahwa mereka yang ingin hidup jujur, yang ingin hidupnya menunjukkan kesetiaan dan ketulusan, akan mengambil keputusan lebih berdasarkan kebenaran daripada mencari jalan pintas. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya” (Ams. 11:3). Komitmen kepada integritas ini bukan saja cara hidup yang benar, tetapi juga menawarkan kehidupan yang lebih baik. Selanjutnya, “Tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya” (ay. 3). Ketidakjujuran hanya akan berakhir sia-sia.
Sesungguhnya, jika kita mengabaikan integritas diri, “kemenangan” sesaat sama saja dengan kekalahan. Namun, ketika kesetiaan dan kebenaran membentuk diri kita dalam kuasa Allah, sedikit demi sedikit kita dijadikan umat berkarakter teguh yang menjalani kehidupan yang sungguh baik.
Allah sumber integritas, Engkau jujur dan setia. Jadikanlah aku semakin serupa diri-Mu. Ajarlah aku hidup dengan jujur dan tulus hati.